← Semua case study
Product StrategyUX FlowSaaS POS

Kapan Harus Bilang Tidak ke Fitur Sendiri

Cerita satu keputusan prioritas MVP di Kafipos: menunda sistem resep multi-level yang sudah saya rancang sendiri, dan memilih solusi yang lebih kecil tapi lebih cepat berguna.

Dashboard Kafipos ditampilkan di tablet dan ponsel
Peran
Product Manager & UI/UX Designer
Tim
3 orang (Kafiloo)
Produk
Kafipos — SaaS POS & Loyalty F&B
Fase
MVP, 2025
01

Problem

Saat merancang fitur stocking system untuk Kafipos, muncul kebutuhan menangani produk dengan varian yang saling tumpang tindih bahan. Contoh paling sederhana ada di menu harian kedai: Cafe Latte dan Almond Latte sama-sama memakai kopi, tapi berbeda jenis susu.

Tanpa sistem yang presisi membedakan titik variasi ini, stock bisa salah terpotong — susu reguler ikut berkurang padahal yang dipesan Almond Latte. Buat pemilik kedai, ini bukan sekadar angka meleset di laporan; ini bahan yang mendadak habis di jam ramai.

02

Process

Breakdown masalah saya lakukan sendiri dulu lewat wireframe dan skema alur: memetakan bagaimana sistem resep multi-level (Recipe/BoM) idealnya bekerja untuk menangani kasus semacam ini — mana bahan yang dibagi bersama, dan di titik mana varian mulai bercabang.

Setelah punya gambaran solusi, hasil breakdown itu saya bawa ke diskusi dengan PM senior di tempat magang untuk divalidasi. Bukan untuk minta jawaban, tapi untuk menguji apakah asumsi saya soal kompleksitasnya masuk akal.

Diagram: Cafe Latte dan Almond Latte berbagi bahan espresso, lalu bercabang ke susu reguler dan susu almond
Titik variasi: bahan bersama (espresso) vs bahan varian (jenis susu). Di percabangan inilah pemotongan stock harus akurat.
03

Decision & Trade-off

Dari diskusi tersebut saya menyadari satu hal yang tidak enak didengar: scope sistem konversi resep multi-level yang akurat untuk semua kombinasi varian jauh lebih besar dari kapasitas tim kami bertiga dan timeline MVP yang ada.

Keputusannya: defer fitur Recipe/BoM, dan alihkan effort ke solusi yang lebih ringan tapi tetap actionable. Fitur “Bottom 5 Slow Movers” kami pivot menjadi tampilan QTY sold plus status “Low Demand” — memberi value ke user tanpa kompleksitas sistem resep penuh.

Kadang keputusan produk terbaik bukan soal fitur apa yang dibangun, tapi fitur apa yang berani ditunda.

04

Outcome

MVP launch lebih cepat sekitar 1–2 minggu dari rencana awal. Tim tidak terjebak membangun mesin resep yang belum tentu dipakai penuh di rilis pertama.

Pendekatan solusi Recipe/BoM sendiri tidak dibuang: sudah divalidasi secara desain dan plan bersama PM senior, lalu disimpan sebagai rancangan siap dikembangkan lagi ketika produk sudah matang dan skala penggunanya lebih besar.

Experience & Education

2022 — sekarang
  1. 2022 — 2026

    SMK Telkom — Software Engineering

    Fondasi: belajar dasar engineering, logika sistem, dan cara produk dibangun dari nol.

  2. Juli — Oktober 2025

    PKL UI/UX Designer di Komerce

    ±4 bulan. Naik level dari teori ke eksekusi desain: wireframe, flow, dan handoff di tim nyata.

  3. 2026

    Lulus SMK Telkom

    Menutup fase sekolah dengan bekal engineering + pengalaman desain lapangan.

  4. Mei — Juli 2026

    Associate Product Manager di Komerce

    ±3 bulan, magang mandiri. Pindah dari 'bagaimana membuatnya' ke 'kenapa ini yang dibuat duluan'.

  5. Juli 2026 — sekarang

    Founder Kafiloo

    Menerapkan semuanya sekaligus: engineering, desain, dan keputusan produk di satu tim bertiga.

Mau ngobrolin prioritas produk kamu?